HeadlineKESEHATAN

Cara agar Anak Tumbuh Jadi Orang yang Berempati

Saat anak Kalau anak menangis atau marah-marah, apa yang bakal bunda lakukan? Umumnya berusaha menghentikannya. Padahal, cara itu bisa malah menunjukkan orang tua tidak berempati dengan emosi yang diungkapkan anak, Bun. Padahal, kita ingin anak kita bisa mengembangkan rasa empatinya.

“Dengan anak usia sekolah, orang tua dianjurkan mendiskusikan perasaan dan masalah mereka. Ini erat kaitannya dengan perkembangan empati pada diri anak-anak,” kata penulis dari India Raksha Bharasia mengutip tulisan Clarke Stewart dalam bukunya Daddy Makes Thee: The Fathers Impact on Mother and Young Child.

Dalam bukunya, Roots and Wings, Raksha menjelas akan empati adalah kemampuan menempatkam diri kita pada posisi orang lain dan berpikir dengan sudut pandang orang lain, Bun. Pada saat berempati, kita tidak menilai, mengkritik, atau bereaksi negatif.

” Empati mengubah kualitas kehidupan kita dan orang di sekeliling. Anak-anak yang lebih berempati cenderung mengembangkan pertemanan yang lebih baik dan bisa lebih cepat bergaul dengan anak-anak lain, lebih jarang bertengkar, dan lebih banyak berbagi,” tambah Raksha.
Selama bertahun-tahun, kata Raksha, para ilmuwan berpendapat anak-anak hanya peduli dengan perasaan atau kebutuhan mereka sendiri. Tapi, ternyata itu tak benar, Bun. Penelitian menunjukkan pada usia dua tahun, anak-anak mulai mengembangkan kepedulian terhadap orang lain dan sering mencoba menghibur orang tersebut.

Ilustrasi anak berempatiIlustrasi anak berempati/ Foto: Wirsad Hafiz

Lantas bagaimana agar rasa empati itu berkembang? Raksha bilang pada prinsipnya anak adalah peniru ulung. Kalau Bunda bisa menebak perasaan seseorang, walaupun berbeda dengan yang Bunda alami, kemungkinan anak-anak akan menerapkan hal itu juga.

“Yang terpenting, tunjukkan empati kepada anak-anak kita,” ujar Rakhsa.

Dia menambahkan, psikolog klinis Carl Rogers mengemukakan bahwa ketulusan merupakan prakondisi untuk semua empati, Bun. Untuk menunjukkan empati, kita harus mencoba berada di balik jiwa orang lain dan memahami perasaan orang lain.

“Kita mengajari anak anak berempati ketika mendengarkan dengan seksama apa yang mereka ucapkan dan berusaha untuk tidak menceramahi, berkhotbah, atau berkomentar yang mungkin dianggap menghakimi atau menuduh,” ujarnya.

Raksha mengingatkan orang tua juga harus berada di posisi orang lain supaya lebih berempati. Kemudian, orang tua bisa mengajak anak memposisikan dirinya sebagai orang lain.

“Berikan penjelasan sederhana tentang bagaimana perasaan orang lain ketika mereka sedih atau terluka, apalagi ketika anak kita yang menjadi penyebab,” kata Rakhsa.

IlustrIlustrasi anak berempatiasi anak berempati/ Foto: dok.HaiBunda

Melatih anak berempati

Nah, kalau Bunda sedang berusaha mengembangkan rasa empati anak, cobalah untuk tak melakukan beberapa praktik ini seperti yang dituliskan Raksha:

1. Hindari mengancam atau memberi hukuman fisik pada anak.

2. Terapkan konsekuensi dan perilaku pada anak secara konsisten

3. Hindari memberi anak imbalan sebagai penyuap supaya mereka berempati. Tapi, kalau anak bisa berempati nggak ada salahnya Bunda beri mereka reward.

Untuk mengajari anak berempat, psikolog anak Novita Tandry bilang orang tualah yang memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan karakter anak, Bun. Terutama seorang ibu yang jadi contoh pertama yang dilihat anak. Kata Novita, ibu adalah role model, bukan super model.

“Seorang ibu patut menjadi contoh yang teladan bagi anaknya. Ia harus memberikan contoh yang baik agar diikuti dan dijadikan suatu kebiasaan yang dibawa hingga dewasa. Kita tidak bisa mengajarkan apa yang tidak kita punya. Bila kita mengajarkan anak disiplin, ya kita harus disiplin,” kata Novita.

 

Sumber : detik.com

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Close