HeadlineSULAWESI TENGAHTERBARU

Polda Sulteng Gandeng FKUB Tangkal Radikalisme

PALU,- Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah (Polda Sulteng) melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulteng memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai gerakan radikalisme, sebagai bentuk upaya deradikalisasi gerakan radikal, ektrimisme dan intoleran serta transnasional.

Polda Sulteng melibatkan langsung Ketua FKUB Prof. KH Zainal Abidin dan Ketua Kafilah Perdamaian Hasanuddin atau dikenal Ustad Hasan Amir, juga pimpinan Pondok Pesantren Alamanah Poso, sebagai narasumber dalam FGD tentang tangkal radikalisme menuju Indonesia maju, berlangsung di Polda Sulteng, Rabu (6/11).

Ketua FKUB Sulteng, Prof KH Zainal Abidin mengemukakan radikalisme atas nama agama adalah suatu pilihan tindakan umumnya dilihat dengan mempertentangkan secara tajam antara nilai-nilai diperjuangkan oleh kelompok (aliran) agama tertentu.

“Paham radikalisme juga sering diartikan sebagai keberpihakan, kecondongan, mendukung pada satu ide saja,” kata Prof Zainal yang merupakan mantan deklarator perguruan tinggi melawan radikalisme di Bali tahun 2017.

Ketua MUI Kota Palu itu menyebut, ormas keagamaan sebagai wadah kelembagaan umat beragama, dituntut menjalin kemitraan dengan semua pihak untuk memberi pencerahan kepada umat terkait dalam memahami ciri radikalisme.

Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat ini menguraikan beberapa ciri radikalisme. Pertama, eksklusif yakni membedakan diri dari kebiasaan orang kebanyakan.

Kedua, fanatik yaitu menganggap diri paling benar atau selalu merasa benar sendiri, dan menganggap orang lain salah.

Ketiga, cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan, dan keempat yaitu tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain.

“Karena itu, upaya pencegahan harus dimulai dari fase fanatisme. Karena orang-orang mudah terindoktrinasi adalah mereka terlalu fanatik atau mereka terlalu bingung menentukan pilihan,” ujar Rois Syuria NU Sulteng itu.

Dirinya menguraikan, perubahan sikap orang dengan gagasan radikal, tidak terjadi dalam satu malam. Melainkan ada proses panjang mereka lalui.

“Nah, usia rema (kisaran 16-17 tahun), adalaj fase yang rentan untuk disusupi dengan ide-ide radikal,” katanya.

Olehnya perlu ada deteksi dini. Kemudian, mencegah radikalisme harus dilakukan dengan strategi menerima perbedaan, mengedepankan persamaan, saling percaya dan memahami, moderasi beragama dan membangun kesadaran global.

FGD yang digelar oleh Polda Sulteng juga melibatkan ormas keagamaan, pemuda, mahasiswa dan eks narapidana teroris. (LN)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Close